Penyu di Pesisir Tabanan Terancam, Hanya 1 dari 1.000 Tukik Bertahan
Ketua Yayasan Bali Turtle Conservation Farm (BTCF) Surabrata, I Gede Sastra Kumala Putra, mengatakan kondisi popularitas penyu di kawasan pesisir Tabanan cukup baik dan mulai mengalami peningkatan.
Menurutnya, peningkatan kepedulian tersebut tidak terlepas dari perhatian masyarakat maupun negara terhadap keberadaan penyu yang masih menghadapi berbagai ancaman.
Namun, tingginya kepedulian belum sepenuhnya menghilangkan ancaman terhadap satwa laut tersebut. Salah satu persoalan utama berada pada rendahnya tingkat keberhasilan tukik untuk bertahan hidup di alam.
"Dari sekitar seribu tukik yang dilepasliarkan, diperkirakan hanya satu ekor yang mampu bertahan hidup hingga dewasa," ujarnya belum lama ini.
Sastra menjelaskan, ancaman terhadap tukik tidak hanya berasal dari kondisi alam. Predator seperti anjing liar, kadal, dan ular juga menjadi ancaman ketika tukik masih berada di daratan.
Di wilayah Tabanan Barat, khususnya kawasan Selemadeg Barat (Selbar), aktivitas penyu bertelur masih ditemukan setiap tahun. Rata-rata terdapat sekitar 70 hingga 100 sarang penyu dalam setahun.
"Jumlah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7.000 hingga 10.000 telur penyu setiap tahunnya," katanya.
Sastra menyampaikan, musim kawin penyu umumnya berlangsung pada awal tahun. Sementara musim bertelur berlangsung sekitar Maret hingga Agustus.
Setelah telur ditanam di pasir, proses penetasan membutuhkan waktu sekitar 55 hingga 60 hari. Tukik yang berhasil menetas kemudian dilepasliarkan kembali ke laut di sekitar lokasi tempat telur tersebut ditemukan.
Sejumlah jenis penyu juga pernah ditemukan di kawasan pesisir Tabanan Barat. Jenis tersebut antara lain penyu lekang, penyu sisik, dan penyu belimbing. Dari ketiganya, penyu lekang menjadi jenis yang paling dominan ditemukan di kawasan tersebut.
"Sejumlah jenis penyu pernah juga ditemukan di kawasan tersebut, di antaranya penyu lekang, penyu sisik, dan penyu belimbing. Namun, penyu lekang menjadi jenis yang paling dominan ditemukan di kawasan Tabanan Barat," sebutnya.
Sastra mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, baik ekosistem darat maupun laut.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah sampah plastik.
Penyu kerap mengira plastik sebagai makanan. Ketika tertelan, sampah tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian.
https://beritabali.com/berita/202207053680/penyu-di-pesisir-tabanan-terancam-hanya-1-dari-1000-tukik-bertahan